Kinerja kuartal IV melampaui ekspektasi analis, namun tekanan biaya medis dan penurunan keanggotaan membayangi prospek UnitedHealth Group.
Jakarta — UnitedHealth Group melaporkan kinerja keuangan kuartal IV yang sedikit melampaui ekspektasi analis, namun memberikan proyeksi pendapatan yang lebih lemah untuk tahun mendatang. Kondisi ini mencerminkan upaya perusahaan asuransi kesehatan terbesar di Amerika Serikat tersebut dalam membalikkan kinerja di tengah lonjakan biaya medis yang lebih tinggi dari perkiraan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Selasa waktu setempat, UnitedHealth mencatat laba per saham (earnings per share/EPS) disesuaikan sebesar US$2,11, sedikit di atas proyeksi Wall Street sebesar US$2,10. Sementara itu, pendapatan perusahaan mencapai US$113,2 miliar, masih di bawah estimasi analis yang memperkirakan US$113,82 miliar, menurut survei LSEG.
Meski laba per saham melampaui ekspektasi, laba bersih UnitedHealth pada kuartal IV hanya mencapai US$10 juta atau 1 sen per saham, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$5,54 miliar atau US$5,98 per saham. Penurunan tajam ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor non-operasional, termasuk divestasi bisnis, restrukturisasi, serta biaya terkait serangan siber besar terhadap unit bisnisnya, Change Healthcare. Jika faktor-faktor tersebut dikecualikan, laba UnitedHealth tercatat sebesar US$2,11 per saham.
Pendapatan kuartal IV tetap tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya, dari US$100,81 miliar menjadi US$113,2 miliar, seiring kuatnya bisnis layanan kesehatan dan asuransi. Namun, tekanan biaya medis yang terus meningkat membebani kinerja keseluruhan.
Manajemen UnitedHealth saat ini mengandalkan tim kepemimpinan baru untuk menjalankan strategi pemulihan. Langkah tersebut mencakup pengurangan jumlah anggota, penyesuaian harga premi, pemangkasan tunjangan tertentu, serta peningkatan transparansi operasional guna mengembalikan profitabilitas sekaligus memperbaiki reputasi perusahaan setelah menghadapi berbagai tantangan selama dua tahun terakhir.
Untuk tahun 2026, UnitedHealth memproyeksikan pendapatan akan melampaui US$439 miliar, atau turun sekitar 2 persen secara tahunan. Proyeksi ini jauh di bawah perkiraan analis yang memprediksi penjualan mencapai US$454,6 miliar. Chief Financial Officer UnitedHealth, Wayne DeVeydt, menyebut proyeksi tersebut mencerminkan penyesuaian skala bisnis secara menyeluruh.
“Ini adalah pertama kalinya dalam satu dekade UnitedHealth Group memproyeksikan penurunan pendapatan,” ujar DeVeydt, dikutip dari CNBC International, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, penurunan tersebut dipicu oleh tiga faktor utama, yakni divestasi bisnis yang telah dan akan dilakukan, termasuk operasional di Inggris dan Amerika Selatan, penurunan jumlah anggota di Amerika Serikat lebih dari 3 juta orang, serta dampak transisi ke sistem pengkodean Medicare terbaru, V28.
Menurut DeVeydt, penerapan sistem V28 diperkirakan memangkas pendapatan hingga US$6 miliar pada 2026, dengan sekitar US$2 miliar berdampak langsung pada unit asuransi UnitedHealthcare dan sisanya memengaruhi bisnis layanan kesehatan Optum.
Tekanan terhadap kinerja UnitedHealth juga datang dari kebijakan pemerintah. Pada awal pekan ini, saham UnitedHealth dan sejumlah perusahaan asuransi kesehatan lainnya melemah setelah Pusat Layanan Medicare & Medicaid (CMS) mengusulkan tarif pembayaran yang relatif datar untuk program Medicare Advantage. Program ini kini mencakup lebih dari setengah penerima manfaat Medicare di AS dan menjadi sumber pertumbuhan utama bagi perusahaan asuransi swasta.
Dalam dua tahun terakhir, biaya medis peserta Medicare Advantage melonjak karena meningkatnya jumlah lansia yang kembali menjalani prosedur medis yang sempat tertunda selama pandemi. Meski demikian, UnitedHealth menyatakan bahwa pada kuartal IV, biaya medis tersebut masih tinggi namun tidak melampaui ekspektasi perusahaan.
Untuk 2026, UnitedHealth memperkirakan rasio manfaat medis (medical benefit ratio) di segmen asuransi akan berada di kisaran 88,8 persen, dengan toleransi plus minus 50 basis poin. Angka ini sedikit membaik dibandingkan rasio 89,1 persen pada 2025, yang menandakan upaya perusahaan untuk menekan pengeluaran medis dan meningkatkan profitabilitas di tengah tantangan industri asuransi kesehatan.







