Waspada Telepon Asing, Ini Tanda Penipuan Vishing

Modus penipuan vishing lewat panggilan suara kian marak. Kenali ciri-cirinya agar terhindar dari pencurian data pribadi.

 

 

Jakarta — Masyarakat diimbau untuk semakin waspada saat menerima panggilan telepon dari nomor asing atau tidak dikenal. Di balik panggilan yang tampak sepele, tersembunyi risiko penipuan digital dengan modus phishing suara atau vishing yang kian marak terjadi.

Dalam keseharian, sebagian besar orang hampir setiap waktu menerima panggilan spam. Selain mengganggu aktivitas, panggilan tersebut berpotensi menjadi pintu masuk kejahatan siber, mulai dari pencurian data pribadi hingga peretasan akun keuangan. Modus vishing memanfaatkan percakapan suara untuk mengelabui korban agar secara sukarela menyerahkan informasi sensitif.

Namun, mengenali panggilan penipuan bukan perkara mudah. Banyak pelaku menjalankan aksinya dengan cara meyakinkan, sehingga tak sedikit korban yang lengah. Meski demikian, terdapat sejumlah ciri umum yang dapat dijadikan acuan untuk mengidentifikasi panggilan telepon penipuan dan patut diwaspadai sejak awal.

Salah satu tanda paling umum adalah penelepon mengaku berasal dari instansi pemerintah atau perusahaan besar. Dengan mengatasnamakan otoritas tertentu, pelaku berusaha menekan psikologis korban agar menuruti permintaan mereka. Modus ini sering disertai nada bicara tegas dan terkesan mendesak.

Ciri berikutnya adalah tawaran hadiah atau kesepakatan tertentu. Jika seseorang tiba-tiba mengabarkan Anda memenangkan undian, lotere, atau program yang tidak pernah diikuti, besar kemungkinan panggilan tersebut merupakan penipuan. Tawaran menggiurkan kerap digunakan untuk memancing respons cepat dari korban.

Penipuan vishing juga dapat dikenali ketika penelepon tidak mengetahui identitas Anda secara spesifik. Sapaan umum tanpa menyebut nama penerima telepon menjadi indikasi awal. Petugas resmi dari lembaga atau perusahaan biasanya telah memiliki data dasar pihak yang dihubungi.

BACA JUGA  Pendiri WikiLeaks Guncang Cannes, Kenakan Busana Korban Gaza

Modus intimidasi turut menjadi pola yang sering digunakan, seperti mengklaim adanya tunggakan utang yang belum dibayar. Pelaku biasanya disertai ancaman denda, sanksi hukum, bahkan hukuman penjara. Jika menerima panggilan semacam ini, masyarakat disarankan segera menutup telepon dan menghubungi langsung instansi terkait melalui saluran resmi untuk memastikan kebenarannya.

Permintaan informasi sensitif juga menjadi alarm bahaya. Data pribadi seperti nomor KTP, rekening bank, kartu kredit, hingga kode OTP tidak seharusnya diberikan melalui telepon. Informasi inilah yang kerap menjadi target utama pelaku vishing.

Selain itu, waspadai klaim bahwa perangkat Anda terinfeksi malware atau virus. Penipu biasanya akan meminta korban mengunduh atau memasang aplikasi tertentu dari jarak jauh. Tindakan tersebut dapat membuka akses pelaku ke perangkat korban dan berujung pada pencurian data.

Tanda lain yang patut dicermati adalah ketika penelepon meminta informasi pribadi yang seharusnya sudah diketahui oleh perusahaan layanan resmi, seperti asuransi atau perbankan. Permintaan verifikasi berulang atas data dasar bisa menjadi indikasi kuat penipuan.

Terakhir, adanya jeda beberapa detik saat telepon dijawab juga patut diwaspadai. Jeda ini kerap terjadi karena pelaku menggunakan sistem panggilan otomatis yang baru menghubungkan korban dengan operator penipu.

Dengan meningkatnya kasus penipuan berbasis panggilan telepon, masyarakat diimbau untuk tidak mudah panik, selalu berpikir kritis, dan segera mengakhiri percakapan jika menemukan kejanggalan. Kewaspadaan menjadi kunci utama untuk melindungi diri dari ancaman vishing yang semakin canggih.

Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *