Ketua TP PKK Aceh turun langsung ke wilayah terisolasi Aceh Tamiang, menyalurkan bantuan dan memastikan kebutuhan kesehatan warga terdampak terpenuhi.
Aceh Tamiang — Air Mata Kak Na akhirnya tumpah saat Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir menyaksikan langsung kehancuran Kampung Sekumur, Kecamatan Sekrak, Aceh Tamiang, yang luluh lantak diterjang banjir bandang. Wilayah pelosok itu menjadi salah satu titik terparah dari rangkaian bencana banjir, longsor, dan banjir bandang yang melanda Aceh sejak 25 November lalu.
Sejak bencana terjadi, Air Mata Kak Na kerap tertahan di balik ketegaran seorang pemimpin perempuan Aceh. Siang dan malam ia menembus wilayah terisolasi—menyusuri jalan berlumpur, menyeberangi sungai, hingga menempuh jalur udara dengan helikopter—demi memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke warga terdampak.
“Sebagai pimpinan, kita harus mampu tampil sebagai penenang. Kita datang bukan hanya mengantarkan bantuan, tetapi juga membawa simpati, empati, dan optimisme. Karena itu, kita harus terlihat kuat,” ujar Marlina Muzakir, yang akrab disapa Kak Na, beberapa waktu lalu.
Namun, ketegaran itu luluh ketika Kak Na tiba di Kampung Sekumur bersama Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah. Pemandangan kehancuran total di kampung tersebut benar-benar mengguncang batinnya.
“Hancur total. Hanya masjid yang masih berdiri kokoh. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari warga di sini. Anak-anak harus bermain di ruang yang sangat terbatas, sementara tempat mereka pulang hanyalah sisa puing yang disulap menjadi pondok darurat,” tutur Kak Na dengan suara bergetar.
Tangis itu tak berlangsung lama. Kak Na kembali menguatkan diri dan menyapa warga dengan senyum penuh harapan. Seperti di lokasi lainnya, selain menyalurkan bantuan tanggap darurat, ia juga membagikan biskuit kepada anak-anak yang berkumpul di halaman masjid.
Menjelang Maghrib, rombongan bersiap menyeberangi Sungai Simpang Kanan. Namun langkah Kak Na terhenti ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari seorang warga bernama Sariah (58). Kak Na pun menghampiri dan berdialog, memberikan penguatan di tengah duka.
Meski seluruh anggota keluarganya selamat, Sariah kehilangan rumah yang telah ditempatinya selama puluhan tahun. Kini, ia berteduh di pondok darurat berukuran 2×2 meter yang dibangun dari kayu bekas dan material sisa banjir bandang. Rumahnya, bersama ratusan rumah warga lain, hilang tanpa jejak, tertimbun kayu gelondongan yang diseret arus deras.
Sekretaris Desa Kampung Sekumur, M. Saiful Juari, menyebutkan kampung tersebut dihuni sekitar 260 kepala keluarga atau sekitar 1.200 jiwa. Sebagian besar warga masih bertahan di lokasi pengungsian dan pondok darurat dengan keterbatasan fasilitas.
Sebelumnya, Kak Na dan rombongan juga menyalurkan bantuan ke Posko Kampung Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu, yang berpusat di Masjid Baitussalam. Penyaluran bantuan dilanjutkan ke sejumlah posko pengungsian di Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka.
Selain kebutuhan pangan dan logistik dasar, perhatian serius juga diberikan pada sektor kesehatan. Kak Na menyadari banjir dan banjir bandang turut merendam fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan puskesmas pembantu. Karena itu, di setiap posko yang dikunjungi, ia selalu meminta daftar kebutuhan obat-obatan mendesak agar pelayanan kesehatan warga tetap berjalan.
Melalui kehadiran langsung di lapangan, Air Mata Kak Na menjadi simbol empati dan kepedulian pemerintah Aceh, sekaligus pesan bahwa negara hadir tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga harapan bagi masyarakat yang tengah bangkit dari bencana.






