Bogotá menegaskan kerja sama pemberantasan narkoba dengan AS, sembari menolak tekanan dan ancaman militer Presiden Donald Trump pascaoperasi di Venezuela.
Jakarta — Pemerintah Kolombia tengah berupaya menjaga keseimbangan sikap diplomatik di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat menyusul ketegangan regional pascaoperasi militer AS di Venezuela. Dari wilayah dekat perbatasan Venezuela, pengamat geopolitik Alessandro Rampietti menilai Bogotá berusaha menunjukkan diri sebagai negara yang bertanggung jawab dalam memerangi perdagangan narkoba, sekaligus menolak ancaman langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ketegangan meningkat setelah Trump menyebut Kolombia sebagai negara yang “sakit” dan melontarkan ancaman akan melakukan tindakan militer serupa dengan operasi di Venezuela terhadap Presiden Kolombia Gustavo Petro. Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Petro, yang menegaskan kesiapan negaranya untuk mempertahankan kedaulatan, bahkan dengan mengangkat senjata apabila Kolombia diserang.
Meski demikian, dalam perkembangan terbaru, para pejabat Kolombia mulai menampilkan sikap yang lebih moderat di ruang publik. Pemerintah Kolombia menekankan kembali komitmen kerja sama dengan Amerika Serikat, khususnya dalam agenda pemberantasan perdagangan narkoba yang selama ini menjadi kepentingan bersama kedua negara.
Rampietti menilai, perubahan nada tersebut tidak dapat dimaknai sebagai bentuk penyerahan diri terhadap tekanan Washington. Ia mencatat, Presiden Petro justru menyerukan aksi demonstrasi besar-besaran di seluruh Kolombia pada Rabu mendatang sebagai bentuk pembelaan terhadap kedaulatan nasional dan penolakan terhadap apa yang disebutnya sebagai intervensi imperialistik Amerika Serikat.
“Dua sikap itu berjalan bersamaan,” ujar Rampietti dikutip dari Al Jazeera. “Kolombia ingin menunjukkan bahwa mereka adalah mitra yang bertanggung jawab bagi Amerika Serikat ketika hal itu penting, tetapi pada saat yang sama mereka juga ingin menegaskan bahwa mereka tidak sependapat dengan Presiden Amerika Serikat dan menolak segala bentuk ancaman terhadap negara ini.”
Situasi tersebut mencerminkan posisi Kolombia yang kian kompleks di tengah dinamika geopolitik Amerika Latin. Di satu sisi, Bogotá membutuhkan kerja sama strategis dengan Washington dalam isu keamanan dan narkotika. Di sisi lain, pemerintah Kolombia berupaya menjaga kedaulatan nasional di tengah kekhawatiran meluasnya pola intervensi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.







