Tiga Srikandi Aceh Tinjau Budidaya Melon dan Tempe Koro

 

Marlina Muzakir bersama jajaran TP PKK meninjau pengembangan pertanian melon dan olahan tempe koro di Aceh Besar.

 

 

Banda Aceh — Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Muzakir, bersama Staf Ahli TP PKK Aceh, Mukarramah Fadhlullah, dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Aceh, Malahayati, meninjau pengembangan sektor pertanian dan olahan pangan lokal di Kabupaten Aceh Besar, Kamis (2/4/2026).

Rombongan bertolak dari Komplek Meuligoe Gubernur Aceh menuju Gampong Lam Manyang, Kecamatan Peukan Bada, untuk melihat langsung budidaya melon yang dikelola masyarakat setempat.

Di lokasi tersebut, ketiganya didampingi oleh Rifat selaku pendiri Rumah Pangan. Mereka turut memanen melon di lahan seluas sekitar setengah hektare yang ditanami sekitar 3.000 batang melon.

Dua varietas melon yang dikembangkan di kawasan itu adalah jenis Inthanon dan Sweetnet. Marlina Muzakir, yang akrab disapa Kak Na, juga berkesempatan mencicipi langsung hasil panen tersebut.

Ia mengajak masyarakat untuk berkunjung ke kebun melon tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung ekonomi lokal.

“Masyarakat bisa datang langsung ke kebun, memetik, dan menikmati melon di lokasi. Selain lebih segar, harganya juga lebih terjangkau dibandingkan di pasar,” ujar Marlina.

Usai kegiatan di Lam Manyang, rombongan melanjutkan kunjungan ke Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, untuk meninjau proses produksi tempe berbahan kacang koro.

Di rumah produksi yang dikelola Rumah Pangan, rombongan melihat langsung proses pengolahan tempe koro serta berbagai produk turunannya, seperti koro krispi dan keripik.

Rifat menjelaskan, unit usaha tersebut mengembangkan lima komoditas utama, mulai dari benih hingga produk olahan siap konsumsi. Untuk produk tempe beku, daya tahannya dapat mencapai dua bulan, sedangkan pada suhu ruang bertahan dua hingga tiga hari.

Ia juga menyampaikan bahwa bahan baku kacang koro sebagian diproduksi sendiri, dengan total lahan sekitar 23 hektare yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Aceh.

Rifat merupakan putra daerah Aceh yang menempuh pendidikan pertanian di Belanda dan lulus dengan predikat summa cum laude. Meski sempat mendapat tawaran menjadi dosen, ia memilih kembali ke Aceh untuk mengembangkan sektor pertanian dan pemberdayaan masyarakat melalui Rumah Pangan.

“Upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk TP PKK Aceh, sangat penting untuk mendorong pengembangan usaha berbasis masyarakat,” ujarnya.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penguatan ekonomi berbasis pertanian dan industri rumah tangga di Aceh. Di akhir kegiatan, rombongan juga membeli sejumlah produk olahan sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *