Di RI Sering Dibakar, Daun Ini Justru Dicari Jerman dan Malaysia

Daun sirsak yang selama ini dianggap limbah kebun kini mulai diminati pasar herbal global sebagai bahan teh herbal, kapsul, dan produk kesehatan alami.

 

 

Jakarta — Daun sirsak yang selama ini kerap dianggap limbah kebun ternyata mulai memiliki nilai ekonomi di pasar internasional. Bagian tanaman yang biasanya dipangkas lalu dibakar bersama ranting itu kini dipasarkan sebagai bahan teh herbal, kapsul, hingga bubuk ekstrak di berbagai platform perdagangan global.

Di tengah meningkatnya tren konsumsi produk herbal alami, daun sirsak mulai dilirik sebagai komoditas bernilai tambah. Produk olahannya telah masuk ke pasar e-commerce internasional dan dijual dalam berbagai bentuk kemasan premium dengan harga belasan dolar AS per kotak.

Selama ini, sirsak lebih dikenal sebagai buah tropis dengan cita rasa manis dan sedikit asam. Kandungan vitamin C, serat, serta antioksidan membuat buah ini cukup populer sebagai bahan baku minuman dan produk herbal. Malaysia tercatat menjadi salah satu negara tujuan utama ekspor sirsak Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Melansir CNBC Indonesia, Pada 2024, nilai ekspor sirsak Indonesia ke Malaysia mencapai US$24.089 atau sekitar Rp426,4 juta. Namun, perhatian pasar global kini mulai bergeser ke bagian lain tanaman sirsak, yakni daunnya.

Daun Sirsak Indonesia
Foto: Ilustrasi daun sirsak. (Dok. Fakultas Pertanian UMSU)

Di pasar herbal dunia, daun sirsak kering dipasarkan sebagai bahan teh herbal dan suplemen kesehatan alami. Produk tersebut umumnya dijual dalam kemasan 40 hingga 60 sachet dan dipasarkan melalui platform digital internasional seperti Amazon.

Daun sirsak berasal dari tanaman Annona muricata, tumbuhan tropis yang banyak tumbuh di Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Afrika. Dalam pengobatan tradisional, daun ini sejak lama digunakan sebagai bahan rebusan herbal.

BACA JUGA  Dugaan Kepentingan Gelap di Balik Aksi Demonstrasi LSM

Kandungan senyawa fenolik, flavonoid, dan acetogenin membuat daun sirsak sering dikaitkan dengan aktivitas antioksidan dan antimikroba. Popularitasnya pun terus meningkat di kalangan produsen herbal dan konsumen suplemen alami.

Berdasarkan jurnal Comprehensive Review on the Ethnomedicinal, Phytochemistry, and Pharmacological Aspects Focusing on Antidiabetic Properties, berbagai klaim kesehatan terkait daun sirsak berkembang luas, mulai dari membantu meningkatkan kualitas tidur hingga dugaan aktivitas antikanker dalam pengujian laboratorium.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa bukti klinis pada manusia masih terbatas. Sebagian besar penelitian baru dilakukan pada tahap laboratorium dan hewan uji sehingga manfaat terapeutiknya belum dapat dijadikan standar medis.

Selain itu, sejumlah studi juga menyoroti keberadaan senyawa acetogenin seperti annonacin yang diduga memiliki potensi neurotoksisitas apabila dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang.

Di tengah keterbatasan bukti ilmiah tersebut, pasar global produk herbal tetap menunjukkan pertumbuhan. Produk teh daun sirsak kini masuk kategori herbal niche dengan pasar loyal di kawasan Eropa dan Asia Timur.

Jerman menjadi salah satu negara tujuan yang mulai dilirik eksportir Indonesia karena permintaan produk herbal alami terus meningkat. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mulai mengembangkan pengolahan daun sirsak melalui proses pengeringan, sortasi, hingga pengemasan menjadi teh celup dan bubuk ekstrak.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor daun sirsak Indonesia dengan kode HS 08109094 mengalami fluktuasi dalam enam tahun terakhir. Pada 2021, beberapa pelaku usaha bersama pemerintah daerah mulai mengirimkan daun sirsak kering ke pasar Jerman dan Korea Selatan.

Meski nilainya masih relatif kecil dibanding komoditas hortikultura utama lainnya, peluang pasar produk herbal berbahan daun sirsak dinilai terus terbuka. Namun, tantangan terbesar masih berada pada aspek standarisasi mutu.

BACA JUGA  Waspada Phishing, Bank Aceh Pastikan Keamanan Action Mobile

Importir luar negeri umumnya mensyaratkan konsistensi kualitas bahan baku, uji residu pestisida, sertifikat fitosanitasi, hingga pelabelan produk yang jelas. Sementara itu, sebagian produsen domestik masih menjual daun sirsak dalam bentuk mentah tanpa proses standarisasi industri.

Kondisi tersebut membuat harga jual produk sulit meningkat dan pasokan ekspor belum dapat berlangsung secara stabil.

Padahal, nilai ekonomi terbesar justru berada pada produk hilir yang telah diproses secara higienis dan dikemas modern sebagai teh herbal premium. Produk dengan standar pengolahan yang baik memiliki margin keuntungan jauh lebih tinggi dibanding penjualan daun mentah.

Karena itu, pengembangan industri hilirisasi dinilai menjadi kunci agar daun sirsak Indonesia mampu bersaing dan memperoleh nilai tambah lebih besar di pasar herbal global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *