Harga Emas Antam Anjlok Tajam, Investor Panik?

Harga emas Antam terkoreksi Rp260 ribu usai sentuh rekor tertinggi. Analis menilai koreksi masih sehat dan wajar.

 

 

Jakarta — Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami koreksi tajam sebesar Rp260 ribu menjadi Rp2,860 juta per gram pada Sabtu (31/1). Penurunan ini terjadi setelah harga emas sebelumnya mencetak rekor tertinggi di level Rp3,168 juta per gram pada Kamis (29/1).

Fluktuasi harga emas tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan investor dan masyarakat, apakah koreksi ini tergolong wajar atau justru menjadi sinyal perubahan tren harga emas ke depan.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menilai pergerakan harga emas yang cukup ekstrem dalam beberapa waktu terakhir mencerminkan dinamika global yang sangat cair dan penuh ketidakpastian. Menurutnya, lonjakan harga emas sebelumnya didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global.

“Di Indonesia, kenaikan harga emas hingga menyentuh Rp3,168 juta per gram dipicu oleh lonjakan permintaan safe haven akibat meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari ekspektasi arah suku bunga Amerika Serikat, tensi geopolitik, hingga volatilitas pasar keuangan internasional,” ujar Ronny, dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (3/2).

Ronny menjelaskan, koreksi harga emas ke level Rp2,860 juta per gram terjadi akibat kombinasi aksi ambil untung (profit taking) dan perubahan ekspektasi pasar. Ketika harga emas naik terlalu cepat dan berada di level tinggi, investor jangka pendek cenderung mengamankan keuntungan mereka.

“Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan tipis yield obligasi global membuat emas menjadi relatif kurang menarik, karena emas merupakan aset tanpa imbal hasil,” katanya.

Meski demikian, Ronny menegaskan bahwa koreksi harga emas saat ini masih tergolong sehat dan bersifat teknikal. Ia mencontohkan pergerakan yield surat utang pemerintah Jepang yang mendekati 4 persen sebagai indikasi adanya penyesuaian pasar global.

BACA JUGA  Antropolog Kanada Soroti Peredaran Narkoba di Aceh dalam Diskusi Budaya di Pidie

“Ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi teknikal yang masih sehat, bukan pembalikan tren besar,” jelasnya.

Ke depan, Ronny memproyeksikan harga emas masih akan bergerak volatil, namun tren kenaikannya tetap terjaga dalam jangka menengah. Harga emas diperkirakan tetap kuat selama ketidakpastian global belum mereda, baik terkait kebijakan moneter global, fragmentasi geopolitik, maupun risiko perlambatan ekonomi dunia.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyebut terdapat dua faktor utama yang memicu koreksi harga emas. Pertama, aksi profit taking setelah harga emas mencapai level tertinggi. Kedua, penguatan dolar AS seiring rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengganti gubernur bank sentral AS, yang memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat.

“Dolar AS kembali menguat sehingga sebagian investor melepas emas dan beralih ke aset berdenominasi dolar,” ujar Bhima.

Meski mengalami koreksi, Bhima menilai prospek harga emas masih tetap positif. Ia menyebut meningkatnya indeks ketidakpastian global, tren dedolarisasi oleh bank sentral negara berkembang—khususnya anggota BRICS—serta kebutuhan emas sebagai bahan baku industri teknologi seperti AI, semikonduktor, dan pusat data menjadi penopang utama harga emas.

“Dalam lima tahun terakhir, imbal hasil emas mencapai 204 persen. Ini menjadikan emas sebagai aset lindung nilai yang sangat kuat. Jika risiko geopolitik global meningkat, harga emas berpotensi kembali melonjak,” pungkas Bhima.


Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *