IHSG melemah lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa dipicu tekanan saham perbankan besar, aksi ambil untung investor, dan sentimen libur panjang Idul Adha.
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan Selasa (26/5/2026), setelah sehari sebelumnya sempat mencatat penguatan. Tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat IHSG terkoreksi lebih dari satu persen hingga akhir sesi pertama perdagangan.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 71,11 poin atau 1,15 persen ke level 6.135,24. Sepanjang sesi pertama, indeks bergerak di kisaran 6.132,57 hingga 6.286,87.
Nilai transaksi perdagangan tercatat mencapai Rp8,31 triliun dengan volume 14,01 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,09 juta kali.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 240 saham menguat, 419 saham melemah, dan 153 saham bergerak stagnan.
Melansir CNBC Indonesia, Pelemahan IHSG terutama dipicu koreksi pada mayoritas sektor perdagangan. Sektor konsumer primer, energi, dan finansial menjadi sektor dengan tekanan terdalam pada perdagangan hari ini.
Saham-saham unggulan atau blue chip berkapitalisasi jumbo menjadi pemberat utama laju indeks. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat menjadi emiten dengan kontribusi pelemahan terbesar terhadap IHSG, yakni mencapai 11,72 poin.
Selain BBCA, tekanan juga datang dari saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Astra International Tbk (ASII) yang turut menyeret pergerakan indeks ke zona merah.
Pelaku pasar menilai perdagangan pasar keuangan domestik masih dibayangi sentimen wait and see menjelang libur panjang Hari Raya Idul Adha. Bursa Efek Indonesia dijadwalkan tutup pada Rabu dan Kamis sebelum kembali beroperasi pada Jumat.
Kondisi tersebut membuat sebagian investor cenderung melakukan aksi ambil untung dan mengurangi eksposur risiko di pasar saham.
Di sisi global, perhatian investor tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Doha. Pembicaraan tersebut disebut mulai menunjukkan kemajuan, termasuk terkait pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan pembahasan isu nuklir Iran.
Meski demikian, Washington dan Teheran disebut masih belum yakin kesepakatan final dapat tercapai dalam waktu dekat.
Meningkatnya optimisme terhadap peluang meredanya ketegangan geopolitik turut memicu penurunan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 7 persen menjadi US$96,14 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah lebih dari 6 persen ke level US$90,30 per barel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan positif, tetapi tetap memperingatkan kemungkinan aksi militer apabila negosiasi mengalami kegagalan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa jalur diplomasi masih menjadi prioritas utama pemerintah AS.
Di kawasan Timur Tengah, ketegangan juga masih berlangsung setelah Israel meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon. Iran di sisi lain mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman di wilayah Teluk Persia.
Sebelumnya, eskalasi konflik di kawasan tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Sementara itu, pergerakan bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini berlangsung variatif. Optimisme investor terhadap potensi kemajuan negosiasi AS-Iran mendorong penguatan di sejumlah pasar saham regional.
Indeks utama Korea Selatan mencatat rekor tertinggi baru setelah melonjak ke level 8.094,90. Indeks saham lapis kecil Kosdaq juga menguat 2,12 persen.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,18 persen setelah sehari sebelumnya berhasil menembus level psikologis 65.000 untuk pertama kalinya. Indeks Topix turut melemah 0,36 persen di tengah aksi ambil untung investor.
Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,17 persen pada awal perdagangan, sedangkan kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong bergerak di zona negatif.













