IHSG Sentuh Rekor 9000, Investor Siapkan Strategi Baru

Rekor intraday IHSG memicu optimisme pasar, namun investor kini menanti rilis inflasi AS, data ekonomi China, serta pergerakan komoditas.

 

 

Jakarta — IHSG rekor 9000 berhasil disentuh secara intraday pada perdagangan Jumat (9/1/2026). Setelah capaian historis tersebut, pelaku pasar kini mengalihkan fokus ke serangkaian data dan sentimen global–domestik, terutama inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan depan serta pergerakan sejumlah harga komoditas yang terus menguat.

Dari kawasan regional, pelaku pasar juga mencermati dinamika pasar keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan rilis inflasi China. Sementara dari dalam negeri, pasar menanti data penjualan ritel serta perkembangan defisit APBN yang berpotensi masih menjadi perhatian pada pekan mendatang.

Melihat ke depan, IHSG rekor 9000 menjadi penanda optimisme, namun investor tetap berhitung terhadap arah kebijakan bank sentral global, kinerja ekonomi utama dunia, dan kondisi fundamental domestik.

Fokus utama: menanti data inflasi AS

Data yang paling ditunggu pelaku pasar global adalah rilis inflasi AS untuk Desember 2025. Publikasi tersebut dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan moneter Federal Reserve, apakah ruang pelonggaran semakin terbuka atau justru bank sentral tetap berhati-hati jika tekanan harga masih bertahan.

Perkiraan sementara menunjukkan inflasi berada di kisaran 2,7 persen secara tahunan. Meski demikian, analis menilai komposisi inflasi—mulai dari energi, pangan, hingga biaya tempat tinggal—akan lebih menentukan persepsi pasar ketimbang angka headline semata. Ekspektasi inflasi masyarakat yang masih tinggi serta persepsi terhadap pasar tenaga kerja juga menjadi faktor yang terus dipantau, dikutip CNBC Indonesia, Minggu (11/1/2026).

Komoditas logam menguat, sorotan pada emas, perak, dan nikel

Di pasar komoditas, harga logam mulia dan industri masih menjadi sorotan. Emas dan perak bergerak naik mendekati level tertinggi sepanjang masa, sementara nikel menembus level tertinggi tiga tahun terakhir. Kenaikan harga nikel mendorong penguatan saham-saham terkait di dalam negeri, dan pasar menanti apakah reli masih berlanjut pada pekan berikutnya.

BACA JUGA  PT Hutama Karya Raih SLFO Bintang 5 untuk Tol Tempino–Ness

Sentimen geopolitik dan dinamika global

Pasar regional ikut merespons perkembangan geopolitik internasional dan wacana kebijakan luar negeri beberapa negara besar. Beragam pemberitaan dan pernyataan politik tersebut dinilai dapat memengaruhi persepsi risiko, harga komoditas energi, serta aliran modal ke emerging markets. Pelaku pasar tetap berhati-hati dan menempatkan fokus pada data resmi serta pernyataan otoritas yang kredibel.

Menanti data ekonomi China

Dari China, perhatian tertuju pada rilis neraca perdagangan setelah sebelumnya inflasi menunjukkan perbaikan usai periode deflasi. Kinerja ekspor–impor dan besaran surplus dagang akan menjadi indikator penting terhadap daya tahan permintaan global dan kedalaman pemulihan ekonomi Tiongkok.

Data domestik: penjualan ritel Indonesia

Dari dalam negeri, data penjualan ritel menjadi sorotan menyusul kenaikan Indeks Penjualan Riil pada bulan sebelumnya. Pasar menanti konfirmasi lanjutan atas tren pemulihan konsumsi rumah tangga, terutama setelah periode musim liburan dan hari besar keagamaan.


Catatan redaksi: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli atau menjual instrumen investasi apa pun. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada pembaca, Sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *