Kapal Induk AS F-35C Panaskan Laut China Selatan

USS Abraham Lincoln diperkuat jet tempur siluman F-35C melakukan patroli rutin di Laut China Selatan, meningkatkan tensi regional dan menjadi sinyal keras terhadap ekspansi klaim maritim China.

 

 

Jakarta – Ketegangan Laut China Selatan kembali mencuat setelah Amerika Serikat (AS) mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln untuk melakukan patroli rutin di kawasan perairan yang masih menjadi sengketa sejumlah negara. Kapal induk bertenaga nuklir itu membawa armada pesawat tempur generasi kelima F-35C Lightning II, yang dinilai sebagai sinyal keras atas dinamika keamanan di wilayah tersebut.

Melansir CNBC Indonesia, Angkatan Laut AS merilis foto kegiatan operasional pada Rabu (7/1/2026) yang memperlihatkan kapal induk USS Abraham Lincoln tengah melaksanakan operasi penerbangan di kawasan sengketa. Dalam keterangan resminya, AS menyebut kehadiran gugus tempur tersebut merupakan bagian dari upaya mencegah agresi, memperkuat aliansi dan kemitraan, serta memajukan stabilitas kawasan melalui kehadiran militer yang terukur.

Langkah Washington dilakukan di tengah klaim maritim luas oleh China atas sebagian besar kawasan berdasarkan “hak sejarah” yang saling bertumpang tindih dengan klaim negara-negara regional, termasuk Filipina yang menjadi sekutu pertahanan AS. Untuk merespons dinamika itu, AS secara berkala menempatkan kapal induknya guna menjaga kehadiran militer dan memberi sinyal komitmen keamanan kepada negara mitra.

Operasi berkelanjutan AS di kawasan tersebut sejalan dengan strategi keamanan nasional yang menekankan pembangunan kapabilitas untuk menolak agresi di sepanjang “Rantai Pulau Pertama” — meliputi Jepang, Taiwan, dan Filipina. Pemerintah AS memandang penguasaan sepihak terhadap jalur pelayaran utama di kawasan sebagai tantangan serius yang dapat mengganggu arus perdagangan global.

Selama patroli di ketegangan Laut China Selatan, USS Abraham Lincoln mengoperasikan berbagai pesawat tempur dan pendukung, termasuk F-35C Lightning II, F/A-18E/F Super Hornet, serta EA-18G Growler. Kapal induk itu juga dikawal tiga kapal perusak, yakni USS Spruance, USS Michael Murphy, dan USS Frank E. Petersen Jr.

BACA JUGA  Gerakan 4B Mengguncang Dunia

Komandan gugus tempur, Laksamana Muda Todd Whalen, menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari misi rutin Armada ke-7 AS. Armada ini secara reguler berinteraksi dan beroperasi bersama sekutu untuk menjaga kawasan Indo-Pasifik yang dinilai penting sebagai ruang yang bebas dan terbuka.

Masa penugasan USS Abraham Lincoln di kawasan masih menjadi perhatian tersendiri. Sejumlah analis membuka kemungkinan pengalihan operasi ke kawasan Timur Tengah, bergantung pada dinamika keamanan regional. Namun hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai perubahan penugasan.

Sementara itu, Pemerintah China belum memberikan tanggapan resmi terkait pengerahan kapal induk AS tersebut. Namun kehadiran armada tempur raksasa itu diperkirakan akan menambah daftar gesekan diplomatik antara dua kekuatan besar dunia, terutama terkait isu kedaulatan maritim dan kebebasan navigasi di perairan internasional.

Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *