Aktivitas paddle board di Pulau Weh menawarkan pengalaman wisata laut tenang, jernih, dan ramah lingkungan.
Sabang — Wisata bahari di Pulau Weh, Sabang, kini berkembang dengan pendekatan yang lebih tenang dan personal. Aktivitas paddle board menjadi salah satu tren baru yang mulai diminati wisatawan, menawarkan cara berbeda untuk menikmati laut, yakni dengan “berjalan” di atas permukaan air yang jernih.
Didukung kondisi perairan yang relatif tenang serta kejernihan air laut yang masih terjaga, Pulau Weh dinilai sangat ideal untuk aktivitas tersebut. Dari atas papan paddle board, wisatawan dapat melihat langsung ke bawah permukaan laut, mulai dari terumbu karang hingga gradasi warna biru yang berubah-ubah. Sensasi ini kerap digambarkan seperti berdiri di atas kaca alami yang membentang luas di tengah laut.

Tidak hanya memberikan pengalaman rekreasi, paddle board juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang gemar fotografi. Lanskap laut Sabang yang berpadu dengan langit terbuka serta latar perbukitan hijau menciptakan komposisi visual yang kuat. Kondisi ini membuat aktivitas tersebut populer di kalangan pengunjung yang ingin mengabadikan momen melalui foto maupun video estetik untuk media sosial.
Untuk menikmati aktivitas ini, wisatawan biasanya dikenakan biaya sekitar Rp100 ribu per jam. Sejumlah penyedia jasa di kawasan tersebut juga menawarkan paket tambahan berupa dokumentasi foto dan video, termasuk pengambilan gambar dari sudut tertentu untuk menambah nilai pengalaman wisata.
Waktu terbaik untuk mencoba paddle board di Pulau Weh adalah pada pagi hari ketika kondisi laut masih tenang, atau menjelang senja saat cahaya matahari menciptakan pantulan hangat di permukaan air. Sebelum memulai aktivitas, pemandu lokal umumnya memberikan pengarahan dasar kepada wisatawan, termasuk teknik keseimbangan di atas papan serta pemahaman kondisi arus laut demi menjaga keselamatan.
Seiring berkembangnya tren wisata ini, paddle board juga menjadi bagian dari gaya hidup wisata modern. Tidak sedikit wisatawan yang datang dengan busana santai bernuansa tropis untuk menunjang pengalaman visual selama berada di atas papan. Unsur estetika ini turut memperkuat daya tarik aktivitas tersebut di kalangan wisatawan muda.
Humaira, salah seorang pelaku wisata lokal, menilai paddle board sebagai bentuk wisata bahari yang lebih ramah lingkungan. Menurut dia, aktivitas ini tidak menggunakan mesin sehingga tidak menimbulkan polusi suara maupun emisi yang dapat mengganggu ekosistem laut.
“Wisatawan tetap bisa menikmati keindahan laut tanpa merusaknya. Ini bentuk wisata yang lebih selaras dengan alam,” ujarnya.
Kehadiran paddle board sekaligus memperkuat arah pengembangan ekowisata di Sabang yang menitikberatkan pada keberlanjutan lingkungan. Aktivitas ini dinilai sejalan dengan upaya menjaga kelestarian ekosistem laut yang menjadi salah satu kekayaan utama kawasan tersebut.
Lebih dari sekadar olahraga air, paddle board menawarkan pengalaman untuk merasakan laut dari perspektif yang berbeda. Di atas papan yang mengapung tenang, wisatawan dapat menikmati birunya laut Sabang dalam suasana yang lebih sunyi, dekat, dan personal. Pengalaman sederhana ini kerap meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang mencobanya, menjadikan Pulau Weh sebagai salah satu destinasi bahari yang terus berkembang di Aceh. (ADV)









