Peulale Aneuk Miet, Sentuhan Hangat Kak Na untuk Trauma Anak Pengungsi

Marlina Muzakir dampingi anak terdampak banjir Aceh Utara melalui kegiatan Peulale Aneuk Miet sebagai pemulihan psikososial anak.

 

 

Aceh Utara — Senyum anak-anak kembali menjadi perhatian utama Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Muzakir. Dalam setiap kunjungan ke lokasi pengungsian, perempuan yang akrab disapa Kak Na itu selalu menyempatkan diri duduk bersama mereka, mendengarkan cerita kecil mereka, dan menenangkan hati yang sempat terguncang oleh bencana. Melalui program Peulale Aneuk Miet, kegiatan menenangkan anak ini terus dilakukan sebagai bentuk trauma healing bagi anak pengungsi di berbagai daerah Aceh yang terdampak bencana.

Suasana ceria itu kembali terlihat ketika Kak Na berkunjung bersama Ketua TP PKK Aceh Utara, Musliana Ismail A. Jalil, ke Dusun Pasi, Gampong Keude Bungkaih, Kecamatan Muara Batu, Senin (12/1/2025). Di tengah tenda pengungsian, anak-anak berkumpul, sebagian masih memeluk boneka lusuh, sebagian lain memegang tangan ibu mereka. Raut lelah tampak, namun mata mereka kembali berbinar ketika Kak Na mulai menyapa satu per satu.

“Anak-anak adalah kelompok paling rentan dan sangat terimbas bencana. Meski terlihat biasa saja, kondisi psikologis mereka tentu tidak sepenuhnya baik karena mereka melihat dan merasakan langsung peristiwa tersebut,” ujar Kak Na dengan suara lembut.

Menurutnya, perhatian sederhana sering kali memiliki arti besar bagi anak-anak di pengungsian. Sekotak susu, beberapa bungkus biskuit, ajakan bermain, hingga sentuhan hangat mampu menumbuhkan kembali keceriaan yang sempat hilang. Anak-anak pun duduk melingkar, tertawa kecil, dan mulai berani bercerita. Ada yang menceritakan sepatunya hanyut, ada yang bercerita tentang buku pelajaran yang hilang, namun tak sedikit pula yang justru mengajak teman-temannya bernyanyi.

Dalam kegiatan itu, Kak Na mengajak anak-anak maju ke depan. Ada yang membaca ayat-ayat pendek, ada pula yang memimpin shalawat bersama. Tepuk tangan kecil bergema setiap kali satu anak selesai tampil. Wajah-wajah mungil itu kembali memancarkan percaya diri. Di tengah keterbatasan, mereka belajar bahwa mereka tidak sendirian.

BACA JUGA  Junaidi: Aceh Meusyuhu Terwujud Lewat Pendidikan Berkualitas

“Dengan kebersamaan seperti ini, kita berharap hati anak-anak kita kembali tenang. Mereka harus merasa diperhatikan, dicintai, dan aman,” kata Kak Na.

Sementara itu, Geuchiek Gampong Keude Bungkaih, Ahmad, mengatakan banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu mengakibatkan sedikitnya 227 rumah mengalami kerusakan ringan, sedang hingga berat. Sebagian rumah bahkan hilang tersapu arus. Selain banjir, gelombang tinggi juga menyebabkan abrasi yang menggerus daratan gampong. Lebih dari 100 meter daratan telah berubah menjadi lautan.

Namun di tengah duka itu, tawa anak-anak hari itu menjadi semacam penguat bagi warga. Orang tua tersenyum melihat anak-anak mereka kembali bermain, meski lantai tempat mereka berlari hanyalah tanah basah dan tikar darurat.

Usai meninjau Keude Bungkaih, Ketua TP PKK Aceh bersama rombongan juga mengunjungi Posko Pengungsian Dusun Ujong Pusong, Gampong Lancang Barat, Kecamatan Dewantara. Di sana, selain kembali mengajak anak-anak bernyanyi dan bermain, tim medis dari Perki Aceh turut memberikan layanan pemeriksaan kesehatan bagi para pengungsi. Anak-anak diperiksa kesehatannya, sementara orang tua mendapat edukasi sederhana tentang menjaga kebersihan dan kesehatan di lokasi pengungsian.

Hari itu ditutup dengan gelak tawa, bukan tangis. Anak-anak menggenggam kotak susu dan biskuit sambil melambaikan tangan kepada rombongan yang berpamitan. Di balik tenda dan lumpur sisa banjir, harapan kecil perlahan tumbuh: Aceh akan pulih, dan anak-anaknya kembali ceria.

Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *