Saham Emas Indonesia Berpeluang Masuk Indeks GDX Dunia

Reli harga emas global membuka peluang emiten emas Tanah Air menembus indeks VanEck Gold Miners ETF, meski seleksi akhir masih ketat.

 

 

Jakarta — Reli harga emas global yang terus berlanjut membuka peluang bagi saham emiten logam mulia Indonesia untuk menembus indeks VanEck Gold Miners ETF (GDX), salah satu indeks saham tambang emas paling bergengsi di dunia. Kenaikan harga emas tak hanya mendorong kinerja keuangan emiten, tetapi juga meningkatkan daya tarik saham-saham emas nasional di mata investor global.

GDX merupakan indeks yang dikelola MarketVector Indexes dan merepresentasikan kinerja perusahaan tambang emas dan perak terbesar dunia. Indeks ini menjadi rujukan utama bagi dana pasif global, sehingga masuknya suatu saham ke dalam GDX kerap menjadi katalis signifikan terhadap likuiditas dan valuasi saham terkait.

Evaluasi konstituen GDX dilakukan secara berkala setiap kuartal, yakni pada Maret, Juni, September, dan Desember. Pada evaluasi kuartal IV-2025 yang diumumkan 15 Desember 2025 lalu, MarketVector tidak menambahkan emiten baru, baik ke dalam GDX maupun indeks turunannya, GDXJ. Meski demikian, peluang tetap terbuka sepanjang 2026 seiring evaluasi lanjutan yang akan dilakukan secara rutin.

Hingga kini, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) masih menjadi satu-satunya emiten emas Indonesia yang tercatat sebagai anggota GDX. Pertanyaannya, emiten emas nasional mana yang berpotensi menyusul jejak BRMS?

Seleksi Awal: Bisnis Murni Emas

Syarat utama masuk GDX adalah struktur bisnis yang berfokus pada emas. Setidaknya, lebih dari 50 persen pendapatan perusahaan harus berasal dari segmen logam mulia. Berdasarkan kriteria ini, sejumlah emiten dinilai memenuhi kategori pure play gold, di antaranya PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

BACA JUGA  BSI Kantongi Izin Bulion, Siap Garap Bisnis Emas Syariah

Melansir CNBC Indonesia, ANTM memang memiliki portofolio bisnis yang beragam, mulai dari nikel hingga bauksit. Namun, kontribusi emas terhadap pendapatan ANTM terus meningkat seiring lonjakan harga emas global dan dalam beberapa periode terakhir telah melampaui ambang 50 persen, sehingga secara struktur bisnis dinilai memenuhi kriteria GDX.

Sementara itu, HRTA merupakan pemain hilir emas yang terintegrasi secara vertikal, dengan fokus pada penjualan emas batangan ke ritel dan pasokan ke bullion bank. Adapun ARCI, PSAB, dan EMAS beroperasi sebagai pemain hulu yang bergerak di sektor pertambangan emas.

Likuiditas dan Kapitalisasi Pasar

Selain aspek bisnis, GDX menetapkan persyaratan teknis yang mencakup free float minimum 10 persen, kapitalisasi pasar minimal sekitar 150 juta dolar AS, nilai transaksi harian rata-rata tiga bulanan minimal 1 juta dolar AS selama tiga kuartal berturut-turut, serta volume transaksi bulanan minimal 250.000 saham selama enam bulan.

Dalam konteks ini, PSAB tersingkir lebih awal karena free float masih berada di kisaran 7,5 persen. Namun, aksi pelepasan saham sekitar 2,5 persen oleh pengendali PSAB, Jimmy Budiarto, memunculkan spekulasi bahwa perusahaan tengah mengupayakan peningkatan free float guna memenuhi standar indeks global.

Untuk aspek likuiditas dan kapitalisasi pasar, ARCI dan ANTM relatif tidak menghadapi kendala berarti, mengingat skala bisnis dan nilai pasar keduanya telah melampaui batas minimum GDX. Sementara EMAS, yang baru melantai di bursa pada 22 September 2025, belum memenuhi persyaratan data perdagangan tiga bulan pada evaluasi Desember 2025, namun berpotensi masuk perhitungan pada evaluasi Maret 2026. Aktivitas perdagangan EMAS sejak IPO tercatat cukup aktif, sehingga dari sisi likuiditas dinilai menjanjikan.

Seleksi Akhir yang Paling Menentukan

Setelah melewati seleksi bisnis dan teknis, hanya tersisa ARCI, ANTM, dan EMAS. Namun, tantangan terbesar justru berada pada tahap akhir. GDX menggunakan pendekatan relatif, di mana saham baru harus berada dalam peringkat 85 persen teratas berdasarkan free float market capitalization dibandingkan seluruh konstituen GDX dan GDXJ.

BACA JUGA  IHSG Sentuh Rekor 9000, Investor Siapkan Strategi Baru

Berdasarkan harga penutupan akhir 2025, ARCI berada di peringkat bawah dan hampir menyentuh 100 persen, sehingga tersingkir. Sementara EMAS dan ANTM berada di kisaran peringkat 85–98 persen, yang berarti masih berada di zona rawan.

Dengan kondisi tersebut, peluang masuknya emiten emas Indonesia selain BRMS ke dalam GDX dalam jangka pendek dinilai masih terbatas. Meski demikian, peluang menuju GDXJ, indeks junior yang lebih akomodatif bagi perusahaan berkapitalisasi lebih kecil, masih terbuka. Bahkan, terdapat preseden di mana satu saham dapat menjadi anggota GDX dan GDXJ secara bersamaan, sebagaimana yang terjadi pada BRMS.


Catatan: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berupa analisis dan pandangan riset. Informasi yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli, menahan, atau menjual instrumen investasi tertentu. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *