Trump Bor Minyak Venezuela, Siapa yang Dikurbankan?

Kebijakan energi Trump yang mendorong peningkatan produksi minyak Venezuela menuai kontroversi karena dinilai menekan produsen minyak dalam negeri Amerika Serikat sendiri.

 

 

Jakarta — Harga minyak yang melemah kembali memberi tekanan pada industri energi Amerika Serikat. Di tengah kondisi tersebut, kebijakan Trump bor minyak Venezuela memunculkan tantangan baru bagi para produsen minyak dalam negeri. Dorongan Presiden Donald Trump agar perusahaan-perusahaan energi AS meningkatkan produksi di Venezuela dinilai dapat melemahkan pasar minyak, memangkas pendapatan, serta merugikan sektor minyak domestik.

Trump menyatakan kebijakannya bertujuan “melepaskan potensi energi Amerika dan menurunkan harga bensin”—sebuah janji yang diharapkan menguntungkan konsumen. Namun, para pelaku industri mengingatkan bahwa dua tujuan tersebut sulit dicapai secara bersamaan. Keuntungan yang menurun justru mendorong perusahaan untuk “melakukan pengeboran lebih sedikit, bukan lebih banyak.”

Trump telah meminta perusahaan minyak AS terlibat dalam pemulihan industri minyak Venezuela yang memiliki cadangan darat sangat besar. Di masa lalu, akses ke cadangan tersebut akan dianggap sebagai peluang langka. Kini, dengan pasar minyak global yang telah kelebihan pasokan dan kapasitas OPEC yang masih besar, tambahan suplai Venezuela dikhawatirkan akan menekan harga serta mengurangi margin keuntungan produsen AS.

Harga minyak AS—produsen terbesar dunia—berada di bawah level keekonomian sekitar 65 dolar AS per barel, sehingga memicu pemutusan hubungan kerja, peralatan ladang minyak yang menganggur, dan pemangkasan belanja modal. Kontrak berjangka minyak terakhir ditutup pada 59,12 dolar AS per barel.

Dampak Trump Bor Minyak Venezuela terhadap Industri Shale AS

Sejumlah eksekutif perusahaan minyak AS, dari pemain besar seperti Chevron dan Exxon hingga perusahaan independen, dijadwalkan membahas rencana investasi di Venezuela. Pemerintah AS bahkan membuka opsi subsidi guna mendorong investasi di negara tersebut. Sementara itu, produsen besar seperti Chevron, Exxon Mobil, ConocoPhillips, SLB, dan Halliburton memangkas ribuan pekerjaan sepanjang 2025.

BACA JUGA  Tarif Baru Trump Berisiko Picu Resesi & Kenaikan Harga

“Langkah terbaru untuk mengalihkan minyak mentah Venezuela ke AS, yang berpotensi mencapai puluhan juta barel, akan memberi tekanan pada produsen minyak serpih domestik,” kata Linhua Guan, CEO Surge Energy America. Ia menilai operator kecil menghadapi “margin yang lebih ketat dan kerentanan yang meningkat di pasar yang sudah kelebihan pasokan.”

Trump mengatakan Venezuela akan menjual 30 hingga 50 juta barel minyak ke AS menyusul penahanan Nicolas Maduro. “Lonjakan barel minyak Venezuela lebih dari sekadar pergeseran pasokan; ini adalah ujian berat bagi model shale Amerika,” ujar Jasen Gast, CEO Oilfield Service Professionals, dikutip dari Reuters, Sabtu (10/1/2026.

Administrasi Informasi Energi memperkirakan produksi AS yang mencapai rekor 13,61 juta barel per hari pada 2025 akan turun menjadi 13,53 juta barel per hari pada 2026. Sementara itu, harga rata-rata bensin ritel turun menjadi 3,10 dolar AS per galon. Tambahan minyak mentah Venezuela berkualitas tinggi berpotensi membanjiri kilang Pantai Teluk AS dan semakin menekan harga.

“Saat minyak mentah berkualitas tinggi ini membanjiri kilang-kilang di Pantai Teluk, mereka menciptakan batas harga yang mengancam untuk menahan WTI di dekat angka 50 dolar AS,” kata Gast. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan margin bahkan bagi operator paling efisien di Cekungan Permian.

Sebaliknya, kilang berpotensi diuntungkan. Namun, perusahaan pengeboran domestik menghadapi tekanan yang meningkat. Ann Janssen dari EOG Resources menilai kelebihan pasokan dan potensi peningkatan produksi dari Venezuela “mendorong harga minyak turun—tren yang kemungkinan berlanjut beberapa kuartal ke depan.”

“Harga turun hingga titik di mana OPEC memangkas produksi, atau para pemain shale AS memangkas anggaran mereka dan produksi AS menurun,” ujar Dan Pickering.

BACA JUGA  Dominasi Dolar AS di Ujung Tanduk

Menurut survei Federal Reserve Dallas, aktivitas minyak dan gas menurun tahun lalu. Banyak lokasi pengeboran terbaik mulai mengering dan harga titik impas naik. “Harga minyak 50 dolar AS adalah titik di mana produksi akan mulai menurun,” kata Matthew Bernstein dari Rystad Energy yang memperkirakan produksi darat AS dapat turun 150.000 barel per hari hingga 2026.

OPEC+ memilih menunda peningkatan target produksi pada kuartal pertama 2026. Di sisi lain, strategi pengalihan barel Venezuela ke pasar AS dinilai menjadi bagian dari upaya menekan inflasi melalui harga energi. Namun, tarif baja dan harga minyak yang rendah tetap menjadi hambatan bagi produsen shale.

“Saya sangat menunggu dan melihat karena masih ada pertanyaan besar yang belum terjawab,” ujar Mike Oestmann, CEO Tall City Exploration.

Di tengah dinamika global energi, kebijakan Trump bor minyak Venezuela tidak hanya memengaruhi keseimbangan pasokan minyak dunia, tetapi juga menjadi ujian bagi daya tahan industri minyak serpih Amerika.

Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *