Google menguji Project Suncatcher untuk mengetahui kemampuan cip AI bekerja di orbit Bumi, menghadapi radiasi, panas, dan tantangan lingkungan antariksa.
Jakarta — Di tengah meningkatnya penolakan masyarakat di sejumlah wilayah pedesaan Amerika Serikat terhadap pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI), perusahaan teknologi mulai mengeksplorasi alternatif baru: memindahkan fasilitas komputasi tersebut ke luar angkasa.
Gagasan itu masih berada pada tahap awal dan belum terbukti layak secara teknis maupun ekonomi. Namun, Google mulai mengambil langkah konkret melalui pusat data luar angkasa yang dikembangkan dalam proyek bernama Project Suncatcher.
Google bersiap meluncurkan satelit uji coba pertamanya untuk proyek tersebut. Prototipe itu dijadwalkan meluncur menggunakan roket SpaceX Falcon 9 dalam misi berbagi muatan (rideshare) Transporter-18 dari Pangkalan Angkatan Antariksa Vandenberg, California.
Proyek tersebut dirancang untuk menguji kemampuan perangkat keras komputasi Google dalam menghadapi kondisi ekstrem di orbit Bumi. Salah satu fokus pengujian adalah tensor processing unit (TPU), cip khusus yang dikembangkan Google untuk menjalankan berbagai beban kerja kecerdasan buatan.
Pengujian ini penting karena perangkat yang dikirim ke orbit harus menghadapi dua kondisi berbeda sekaligus. Perangkat mengalami guncangan dan tekanan saat proses peluncuran, kemudian harus beroperasi di lingkungan luar angkasa yang memiliki tingkat radiasi jauh lebih tinggi dibandingkan permukaan Bumi.
“Peluncuran perdana ini bertujuan untuk melihat apa yang berhasil, mengidentifikasi titik-titik kegagalan, dan menerapkan temuan tersebut pada misi-misi mendatang,” kata Travis Beals, Direktur Senior Paradigma Kecerdasan Google, dalam keterangan perusahaan, dilansir dari CNN.
Google berencana melanjutkan penelitian tersebut pada 2027 dengan meluncurkan dua satelit tambahan.
Radiasi Jadi Tantangan Pusat Data di Orbit
Google bukan satu-satunya perusahaan yang mempertimbangkan konsep pusat data luar angkasa. Meningkatnya kebutuhan terhadap komputasi untuk pengembangan AI telah mendorong perusahaan teknologi mencari sumber daya komputasi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pemrosesan dalam skala besar.
Meski demikian, pembangunan pusat data di orbit Bumi menghadirkan sejumlah persoalan teknis yang berbeda dari fasilitas di darat.
Salah satunya adalah paparan radiasi. Partikel berenergi tinggi dapat menyebabkan kesalahan pada data yang dikenal sebagai bit flip. Paparan radiasi dalam jangka panjang juga berpotensi memperpendek masa pakai perangkat keras elektronik.
Google sebelumnya melakukan simulasi kondisi luar angkasa di Crocker Nuclear Laboratory, University of California, Davis. Menurut perusahaan tersebut, cip TPU yang diuji menunjukkan kinerja sangat baik dalam simulasi. Namun, sejumlah karakteristik hanya dapat diketahui melalui pengujian langsung di luar angkasa.
Selain radiasi, kepadatan objek di orbit dan risiko tabrakan antar-satelit juga menjadi persoalan yang perlu diperhitungkan. Kehadiran satelit dalam jumlah besar untuk menjalankan komputasi dapat menambah kompleksitas pengelolaan lalu lintas antariksa.
Persoalan Panas di Ruang Hampa
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah sistem pendinginan.
Pusat data di Bumi menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika server dan cip beroperasi. Fasilitas di darat umumnya menggunakan sistem pendingin yang memanfaatkan udara, air, menara pendingin, atau kombinasi berbagai teknologi untuk menjaga suhu perangkat tetap berada dalam batas aman.
Namun, kondisi tersebut berbeda di luar angkasa.
Ruang hampa tidak menyediakan udara yang dapat digunakan untuk memindahkan panas melalui konveksi. Akibatnya, sistem pusat data luar angkasa membutuhkan pendekatan berbeda untuk menjaga perangkat komputasi tetap dingin.
Salah satu solusi yang tengah dipertimbangkan adalah penggunaan radiator berukuran besar yang mampu memancarkan panas ke lingkungan sekitar. Google juga berencana menguji kombinasi radiator dan pipa panas sebagai bagian dari pengembangan teknologi Project Suncatcher.
Perusahaan menyatakan desain tersebut akan terus disempurnakan seiring dengan bertambahnya hasil pengujian dan pemahaman terhadap kondisi operasi di orbit.
Namun, satelit prototipe yang diluncurkan pada tahap awal belum tentu dapat memberikan jawaban lengkap mengenai seluruh persoalan pendinginan. Masih diperlukan serangkaian pengujian lanjutan untuk mengetahui apakah teknologi komputasi AI dapat beroperasi secara stabil dan efisien dalam jangka panjang di luar angkasa.
Dengan demikian, gagasan pusat data luar angkasa masih berada dalam tahap penelitian. Keberhasilan Project Suncatcher tidak hanya bergantung pada kemampuan cip menjalankan komputasi AI di orbit, tetapi juga pada kemampuan teknologi tersebut mengatasi radiasi, panas, umur perangkat keras, keselamatan satelit, serta biaya operasional.









